Team Syarhil kabupaten Lingga
ﺍﻠﺤﻤﺪ
ﻠﻠﻪ ﺍﻠﺬﯼ ﺍﻨﻌﻤﻨﺎ ﺑﻨﻌﻤﺔ ﺍﻻﻴﻤﺎﻦ ﻭﺍﻻﺳﻼﻡ . ﻭﺍﻠﺼﻼﺓ ﻭﺍﻠﺳﻼﻢ ﻋﻠﯽ ﻤﺤﻤﺪ ﺧﻴﺮﺍﻻﻨﺎﻢ ﺻﻼﺓ ﻭﺴﻼﻤﺎ.
ﺪﺍﺌﻤﻴﻦ ﻤﺘﻼﺯ ﻤﻴﻦ ﻓﯽ ﺪﺍ ﺮﺍﻠﺴﻼﻡ ﺍﻤﺎﺑﻌﺩ
Seiring
berkembangnya zaman diikuti perkembangan teknologi ternyata tidak membuat
akhlak remaja menjadi lebih baik. Bahkan, mereka seringkali terlena dan
terjerumus dalam hal yang dapat merusak dirinya dan keluarganya. Untuk itu,
peran orangtua sangat diperlukan mengingat hal itu sangat penting. Oleh karena
itu, pada kesempatan hari ini, izinkanlah kami menyampaikan syarahan kami
mengenai Cara Mendidik Anak.
Hadirin Hadirat
Rahimakumullah !
Pada suatu hari,
ketika sedang berkumpul dengan para sahabat Rasulullah pernah memberikan
peringatan. Beliau bersabda :
ﻳﺴﻖ ﺍ ﻦ
ﺘﺩﺍﻉﻋﻟﻳﻛﻢ ﺍﻻﻤﺎﻢ ﻜﻤﺎ ﺘﺩﺍﻉ ﺍﻠﻌﻜﻠﺔ ﻋﻟﯽ ﻗﺴﻌﺗﻬﺎ
Artinya :
“Pada
suatu saat nanti akan datang ditengah-tengah kamu wahai umat islam dimana
orang-orang lain disekeliling kamu akan bersatu mengerubungi kamu seperti
bersatunya orang-orang mengerubungi makanan di atas meja hidangan”
Sebagian sahabat
merasa heran dan terkejut lalu mereka bertanya :
ﺍﻣﻦ ﻜﻟﺔ ﻨﺤﻦ
ﻴﻮﻣﺌﺫ ﻴﺎﺭﺴﻮﻞﷲ
Artinya : “Apakah jumlah kami pada waktu itu sedikit ya
Rasulullah?”
Beliau menjawab
:
ﺒﻞ ﺍﻨﺘﻢ ﻴﻮﻣﺌﺫ
ﻜﺜﻴﺮ
Artinya : “Sama sekali tidak kamu tidak sedikit pada saat itu”
Bahkan jumlah
kamu pada saat itu sangat banyak, kamu adalah mayoritas. Tetapi sambung beliau:
ﻮﻠﻜﻨﻜﻢﻏﺴﺎﺀ
ﻛﻐﺴﺎﺀ ﺷﻲﺀ
Artinya : “Tetapi keadaanmu ketika itu persis seperti
buih di lautan”
Banyak ! Tetapi
tidak punya daya dan kekuatan. Banyak ! Tetapi dipermainkan gelombang lautan
dihempaskan ke tepian panyai tanpa punya makna dan arti. Kondisimu saat itu
quantitas yang tanpa qualitas. Dan celakanya sambung beliau :
ﻮﺍﻠﻴﻨﺰﺃﻦ
ﻔﻲ ﻗﻠﻮﺐﻋﺪ ﻮﻜﻢﺍﻠﻤﻬﺎﺑﺔ ﻤﻨﻜﻢ
Artinya : “Akan dicabut kehebatanmu dimata
musuh-musuhmu”
Sehingga disaat
itu oranglain menganggapmu umat islam enteng saja, remeh saja, tidak ada
apa-apanya. Lalu kata rasulullah :
ﻮﺍﻠﻴﻜﺰﻔﻦ
ﻔﻲ ﻘﻠﻮﺑﻜﻢ ﺍﻠﻮﻫﻦ
Artinya: “Dan dihatimu dicampakkan penyakit wahn.”
Sahabat lalu
bertanya :
ﻮﻤﺎﻫﻮﺍﻠﻮﻫﻦ ﻴﺎﺮﺴﻮﻞﷲ
Artinya : “Apakah penyakit wahn itu ya Rasulullah?”
Rasulullah
menjawab :
ﺤﺐ ﺍﻠﺪﻨﻳﺎ
Artinya : “Terlalu cinta pada dunia”
Materialistis
dan takut resiko. Dua penyakit inilah yang menyebabkan walaupun umat ini
mayoritas tetapi dipermainkan oleh yang minoritas. Walaupun golongannya besar
tetapi nasibnya seperti makanan di atas meja yang dimakan dan dihantam dari
segala penjuru.
Saudara-saudara
kaum muslimin Rahimakumullah !
Di zaman
sekarang ini, kita insyaAllah tidak akan mengalami perang sehebat perang badar
yang dialami oleh rasulullah dan para sahabatnya. Tetapi sesungguhnya perang
yang kita hadapi di zaman sekarang ini, tidak kurang hebatnya dari perang
badar, tidak kurang dahsyatnya dari perang uhud, dan tidak kurang ngerinya dari
perang khandag. Hanya saja, perang yang kita hadapi saat ini adalah perang
aqidah, perang ideologi dan perang mempertahankan keyakinan. Yang kalau saat
ini kita kalah, sekarang kita memang masih beragama. Tetapi bagaimana dengan
anak kita, cucu kita dan generasi yang akan hidup 10, 20, hingga 30 tahun yang
akan datang?? Wallahu a’lam bisowaf.
Diperingatkan
oleh Rasulullah SAW di dalam hadisnya yang berbunyi:
ﺴﻳﺄ ﺘﻲﻋﻠﯽ
ﺍﻤﺘﻲﻻ ﻳﺒﻘﻲ ﺍﻻﺴﻼﻡ ﺍﻻﺍﺴﻡ ﻮﻻ ﻤﻦ ﺍﻠﻘﺮﺍﻦ ﺍﻻﺮﺍﻨﻢ
Artinya :
“Akan
datang suatu masa ditengah umatku dimana pada masa itu islam ada tapi tinggal
sekedar namanya saja dan Al-Qur’an pun ada tapi tinggal sekedar tulisannya
saja”
Terlalu cinta
pada dunia menyebabkan kita lupa akan tanggungjawab dan kewajiban. Kita lupa
meneruskan dan mewariskan kepada generasi yang akan datang. Kita hanya berlomba
untuk mengejar dunia beserta seluruh isinya baik berupa materil, seksuil maupun
pangkat, jabatan dan kedudukan.
Yang kedua dalam
hadisnya Rasulullah SAW berkata :
ﻮﻜﺮﺍ ﻫﺑﺔ
ﺍﻠﻤﻮﺕ
Artinya : “Terlalu takut kepada mati”
Baik mati ajal,
mati usahanya, mati karirnya, mati pangkat dan jabatannya. Sehingga dengan
demikian, akaibatnya jatuh kita menjadi umat yang kehilangan wibawa dimata
oranglain.
Saudara-saudara
kaum muslimin Rahimakumullah !
Maka dari itu,
selama kita menjaga diri kita dan keluarga kita, kita juga berkewajiban menjaga
dan mewarisi kepada generasi yang akan datang. Mengarahkan dan mendidik mereka
sesuai yang dikehendaki oleh Allah SWT.
Anak adalah
amanat ! Menyia-nyiakan amanat adalah khianat. Dan khianat itu adalah dosa
besar. Dan orangtua bisa saja masuk neraka karena menyia-nyiakan amanat dan
tidak bertanggungjawab akan anak-anaknya.
Saudara-saudara
yang dirahmati Allah !
Itulah sebabnya
Allah benar-benar berpesan kepada kita dalam Q.s At Tahrim : 6 yang berbunyi :
ﯿﺂ ﯿﻬﺎ ﺍﻠﺬﯿﻦ
ﺍﻤﻨﻮﺁ ﺍﻨﻔﺴﻜﻢ ﻮﺍﻫﻠﯿﻜﻢ ﻨﺎﺮﺍ ﻮﻗﻮﺪﻫﺎ ﺍﻠﻨﺎﺱ ﻮﺍﻠﺤﺠﺎﺮﺓ
ﻋﻠﻴﻬﺎ
ﻣﻠﺌﻜﺔ ﻏﻼ
ﻇ ﺷﺪﺍ ﺪ ﻻ ﻴﻌﺼﻮﻦﷲ ﻣﺂ ﺍﻣﺮﻫﻢ ﻮﻴﻔﻌﻠﻮﻦ ﻣﺎﻴﺆﻣﺮﻮﻦ
Artinya :
“Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”
Janganlah sampai
istri dan anak-anak dapat menjerumuskan seorang suami untuk melakukan
perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Kadang-kadang terlalu sayang
dan cintanya kepada istri dan anak-anak, seorang suami rela melakukan apa saja
untuk menyenangkan hati mereka dengan melakukan tindakan penyelewengan,
korupsi, dan bahkan melanggar apa yang telah dilarang Allah SWT.
Sebagaimana
firman Allah dalam QS. At-Taghabun : 14 yang berbunyi :
ﯿﺂ ﯿﻬﺎ ﺍﻠﺬﯿﻦ
ﺍﻤﻨﻮﺁ ﺍﻦ ﻣﻦ ﺍﺰﺍﺟﻜﻢ ﻮﺍﻮﻻ ﺪ ﻜﻢﻋﺪ ﻭﺍﻟﻜﻢ ﻓﺎﺣﺰﺮﻭﻫﻢ
ﻭﺍﻥ
ﺗﻌﻔﻭﺍ
ﻭﺗﺼﻔﺤﻭﺍ ﻭﻧﻐﻔﺮﻭﺍ ﻔﺎﻦ ﷲ ﻏﻔﻭﺮﺮﺤﻴﻢ
Artinya :
“Hai
orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu
ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan
jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Kalau anak
adalah amanat yang harus kita jaga, berarti ia kita didik sebagaimana kehendak
yang memberikan amanat. Akan tetapi dalam pelaksanaannya, menjalankan amanat
tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam menjalankannya dipenuhi dengan
cobaan dan rintangan. Harta, istri dan anak merupakan ujian dan cobaan !
Sebagaiman
firman Allah dalam QS. At-Taghabun : 15 yang berbunyi :
ﺍﻧﻤﺂﺍﻤﻭﺍﻠﻜﻢ
ﻭﺍﻭﻻ ﺪ ﻜﻢ ﻓﺘﻧﺔ ﻭﷲ ﻋﻧﺪﻩ ﺍﺟﺮﻋﻈﻴﻢ
Artinya :
“Sesungguhnya
harta-hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allahlah pahala
yang besar”
Saudara-saudara
Rahimakumullah !
Apakah yang
mula-mula harus kita tanamkan di dalam diri seorang anak ?
Pendidikan
pertama yang diberikan adalah persoalan aqidah. Nabi Ibrahim, pertanyaan yang
paling merisaukan beliau buat anak cucunya ialah :
ﻣﺎ ﺗﻌﺒﺪﻮﻦ
ﻣﻦﺒﻌﺪﻱ
Artinya : “Apa yang kamu sembah setelah aku?
Kalau ayah sudah
tidak ada lagi, sekarang ayah sekarang masih rajin ke Masjid melakukan ruku’
dan sujud, I’tikaf dan membaca Al-Qur’an. Tetapi, kalau suatu saat ayahmu
meninggalkan dunia ini, masihkah engkau mau masuk ke dalam masjid? Apa yang
akan kamu sembah kalau aku bapakmu dudah tidak ada lagi?
Ditanamkan bukan
hanya keyakinan bertauhid, tetapi sekaligus juga menyembah kepada Allah. Yang
kita yakinkan dengan tauhid itu tadi.
Tapi, berbeda
dengan kita sekarang, kita tidak pernah berfikir :
ﻣﺎ ﺗﻌﺒﺪﻮﻦ
ﻣﻦﺒﻌﺪﻱ
Tetapi, orangtua
sekarang, pagi-pagi malah berfikir :
ﻣﺎ ﺗﺄ ﻛﻠﻮﻦ ﻣﻦ ﺒﻌﺪﻱ
Artinya : “Kalau
bapak tidak ada kamu makan apa nak?”
Ayuhal hadirun !
Yang harus
pertama-tama kita tanamkan ke delam diri seorang anak, kita didik mereka dengan
jiwa tauhid yang mengkristal di dalam batinnya, meresap sampai ke tulang
sum-sumnya. Yang apabila nyawanya sekalipun berpisah dari badannya, aqidahnya
tidak akan terpisah dari hatinya. Bahkan dia sanggup berkata dengan tegar “LEBIH BAIK AKU MELARAT KARENA
MEMPERTAHANKAN IMAN DARIPADA HIDUP MEWAH TETAPI MENJUAL AQIDAH”
Saudara-saudara
kaum muslimin rahimakumullah !
Mendidik anak
menurut tuntunan Al-Qur’an adalah seperti yang dicontohkan oleh Luqmanul Hakim.
Dapat kita pelajari di dalam Al-Qur’an di surat Lukman ayat 13-14.
Yang pertama
dalam QS. Lukman : 13 yang berbunyi :
ﻮﺍﺫ ﻭﻗﺎﻞ
ﻠﻘﻤﻦﻻﺒﻨﻪ ﻭﻫﻮﻳﻌﻈﻪ ﻳﺒﻨﻲﻻ ﺗﺸﺮﻙ ﺒﺎﷲ ﺍﻦ ﺍﻟﺸﺮﻙ ﻟﻈﻠﻢ ﻋﻈﻴﻢ
Artinya :
“Dan
(ingatlah) ketika lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran
kepadanya, “Wahai anakku ! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”
Janganlah engkau
mempersekutukan Allah nak ! Jaga tauhid, pelihara iman, mantapkan aqidah ! Ini
dasar yang pertama. Dasar sebelum anak mengenal berbagai macam disiplin ilmu.
Tauhid ! Adalah pertama yang ditanamkan.
Saudara-saudara
kaum muslimin Rahimakumullah !
Kemudian
pendidikan yang kedua berdasarkan QS. Lukman : 14 yang berbunyi :
ﻭﻭﺻﻴﻨﺎ ﺍﻻﻨﺴﺎﻦ
ﺒﻭﺍ ﻠﺪﻴﻪ
Artinya :
“Dan
kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya”
Menanamkan rasa
hormat dan berbakti kepada orangtua. Bagaimana menanamkan rasa hormat kepada
orangtua di hati anak? Tentu yang pertama bagaimana orangtua bisa memberikan
keteladanan. Keteladanan jauh lebih berhasil dari sekedar teori yang
muluk-muluk. Apabila kita orangtua tidak bisa memberikan keteladanan yang baik
kepada anak-anak, maka suatu saat anak akan menganggap enteng dan kehilangan
wibawa kita sebagai orangtua.
Saudara-saudara!
Kita berikan
pengetahuan kepada anak-anak agar ia mampu memfilter kebudayaan dan peradaban
yang datang dari luar. Kadang kita salah, ingin meniru barat tapi bukan
teknologinya. Kita hanya meniru wasternisasinya saja. Bukan isinya yang kita
ambil, tapi malah kulitnya. Akibatnya apa? Modernnya belom, orangnya sudah
barat. Bergaul cara barat, berumah tangga cara barat, dan mendidik anak pun
juga cara barat. Kulitnya kita ambil sementara isinya kita campakkan. Pengaruh
peradaban dan kebudayaan inilah yang dapat menghancurkan moralitas anak-anak
kita. Ini yang kedua.
Kemudian yang
ketiga,
Masih melalui
model Luqman. Al-Qur’an mendorong kita mendidik anak dengan menanamkan etika
otonom, apa itu ?
Berikut yang
diajarkan dalam QS. Luqman : 16 yang akan dibaca oleh qori’ah kami
ﻳﺒﻨﻲﺍﻨﻬﺎ
ﺍﻦ ﺗﻚ ﻣﺜﻘﺎﻝ ﺤﺒﺔ ﻣﻦ ﺨﺮﺪﻝ ﻓﺗﻜﻦ ﻔﻲ ﺻﺤﺮﺓ ﺍﻭﻓﯽ ﺍﻠﺴﻤﻮﺕ ﺍﻮﻓﯽ
ﺍﻻﺭﺽ ﻳﺄﺕ
ﺑﻬﺎ ﷲ ﺍﻥ ﷲ ﻟﻄﻳﻒﺧﺒﻳﺭ
Artinya :
“Wahai
anakku ! Sesungguhnya kalau ada satu kebaikan yang kecil, tidak nampak oleh
pandangan mata yang zahir, yang kecil itu tersembunyi di puncak langit di dasar
bumi yang paling dalam atau di tengah batu hitam sekalipun Allah pasti
mengetahuinya dan pasti memberikan balasan yang seadil-adilnya”
Pendidikan apa
ini?
Pendidikan moral
! Menanamkan etika otonom.
Nak, kau berbuat
baik jangan karena dilihat orang. Nak, kau tidak mau berbuat kejahatan jangan
karena takut ada polisi. Kalau ada polisi kau tak mau jahat. Kucing juga
begitu, coba lihat kucing! Kita letakkan ikan, tongkrongin aduh kucing kalem,
sopan. Tetapi sedikit kita lengah, habis ikan dilahap.
Yang keempat
barulah tatanan kehidupan sehari-hari. Kata luqman dalam QS. Lukman : 17, yang
berbunyi :
ﻳﺒﻨﻲﺍﻗﻢﺍﻠﺼﻠﻮﺓﻮﺃﻣﺭﺑﺎﻠﻤﻌﺭﻮﻑﻮﺍﻨﻪﻋﻦﺍﻟﻤﻨﻜﺭﻮﺍﺻﺒﺭﻋﻠﯽ
ﻣﺂﺍﺻﺎﺑﻚ ﺍﻥ ﺫﻟﻚ
ﻣﻥﻋﺰﻢﺍﻻﻣﻮﺮ
Artinya :
“Wahai
anakku ! Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang ma’ruf dan
cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting”
Di dalam rumah
tangga muslim, anak yang telah berumur 7 tahun sudah berani meninggalkan
shalat, maka kata nabi pukul !
Nak ! Dirikanlah
shalat, sebab ini sandaran vertikal yang paling langsung antara manusia dengan
Tuhannya. Menyadari bahwa sepanjang yang dilakukan oleh manusia adalh berusaha
dan berusaha, kepastian sepenuhnya ada di tangan Allah. Kepribadianmu
diperteguh dengan shalat sebagai sandaran vertikalmu kepada Allah.
Kemudian
tampillah di tengah masyarakat membina yang ma’ruf dan mencegah yang munkar.
Dilaksanakan sesuai kesanggupan masing-masing. Bukankah setiap kita ingin punya
anak yang bermanfaat ? Setidaknya bagi keluarganya, syukur-syukur bagi
lingkungannya, masyarakat, bangsa dan negaranya.
Yang kelima,
Biasakan hidup
dengan suasana keagamaan. Kontrollah sholatnya, baca Al-Qur’annya, puasanya di
bulan Ramadhan. Disana diharapkan nilai-nilai ilmu yang dia dapatkan di bangku
sekolahnya akan menciptakan keseimbangan dengan yang ditanamkan oleh
orangtuanya. Sehingga apabila keseimbangan ini terwujud, akan menjadi
keseimbangan dalam pola berfikir. Dan keseimbangan dalam pola berfikir akan
melahirkan keseimbangan dalam perbuatannya. Maka, terwujudlah insan fiiddunnya hasanah wa fil akhirati hasanah
seperti yang kita harapkan.
Demikianlah
syarahan singkat yang dapat kami sampaikan. Jika terdapat kesalahan, kami mohon
maaf yang sebesar-besarnya. Karena kesalahan itu memang datang dari diri kami
sendiri. Dan apabila yang kami sampaikan itu benar, maka syukur Alhamdulillah.
Berarti Allah benar-benar memberikan petunjuknya lewat syarahan ini.
Semoga Allah
senantiasa menganugerahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua
khususnya yang hadir pada hari ini, serta mudah-mudahan kita dapat menjadi
insan yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Akhir kata kami
ucapkan :
ﺑﺎﺮﻙﷲ ﻠﻲﻭﻟﻜﻡ
ﻓﯽﺍﻠﻘﺮﺍﻥﺍﻠﻌﻈﻴﻢ
ﻮﺍﻠﺴﻼﻢ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻮﺮﺤﻤﺔ ﷲ ﻮﺑﺮﻛﺎﺗﻪ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar