SELAMAT DATANG.....

Selamat datang buat para pengunjung yang mampir di dalam blog ini.. Jangan lupa isi polling untuk mem'vote tujuan Anda... :-)

Apa tujuan Anda mampir kemari ?

Sabtu, 05 Mei 2012

CARA MENDIDIK ANAK


Team Syarhil kabupaten Lingga

ﺍﻠﺤﻤﺪ ﻠﻠﻪ ﺍﻠﺬﯼ ﺍﻨﻌﻤﻨﺎ ﺑﻨﻌﻤﺔ ﺍﻻﻴﻤﺎﻦ ﻭﺍﻻﺳﻼﻡ . ﻭﺍﻠﺼﻼﺓ ﻭﺍﻠﺳﻼﻢ ﻋﻠﯽ ﻤﺤﻤﺪ ﺧﻴﺮﺍﻻﻨﺎﻢ ﺻﻼﺓ ﻭﺴﻼﻤﺎ. ﺪﺍﺌﻤﻴﻦ ﻤﺘﻼﺯ ﻤﻴﻦ ﻓﯽ ﺪﺍ ﺮﺍﻠﺴﻼﻡ ﺍﻤﺎﺑﻌﺩ

Seiring berkembangnya zaman diikuti perkembangan teknologi ternyata tidak membuat akhlak remaja menjadi lebih baik. Bahkan, mereka seringkali terlena dan terjerumus dalam hal yang dapat merusak dirinya dan keluarganya. Untuk itu, peran orangtua sangat diperlukan mengingat hal itu sangat penting. Oleh karena itu, pada kesempatan hari ini, izinkanlah kami menyampaikan syarahan kami mengenai Cara Mendidik Anak.

Hadirin Hadirat Rahimakumullah !
Pada suatu hari, ketika sedang berkumpul dengan para sahabat Rasulullah pernah memberikan peringatan. Beliau bersabda :

ﻳﺴﻖ ﺍ ﻦ ﺘﺩﺍﻉﻋﻟﻳﻛﻢ ﺍﻻﻤﺎﻢ ﻜﻤﺎ ﺘﺩﺍﻉ ﺍﻠﻌﻜﻠﺔ ﻋﻟﯽ ﻗﺴﻌﺗﻬﺎ

Artinya :
“Pada suatu saat nanti akan datang ditengah-tengah kamu wahai umat islam dimana orang-orang lain disekeliling kamu akan bersatu mengerubungi kamu seperti bersatunya orang-orang mengerubungi makanan di atas meja hidangan”

Sebagian sahabat merasa heran dan terkejut lalu mereka bertanya :

ﺍﻣﻦ ﻜﻟﺔ ﻨﺤﻦ ﻴﻮﻣﺌﺫ ﻴﺎﺭﺴﻮﻞﷲ

Artinya : “Apakah jumlah kami pada waktu itu sedikit ya Rasulullah?”

Beliau menjawab :

ﺒﻞ ﺍﻨﺘﻢ ﻴﻮﻣﺌﺫ ﻜﺜﻴﺮ

Artinya : “Sama sekali tidak kamu tidak sedikit  pada saat itu”

Bahkan jumlah kamu pada saat itu sangat banyak, kamu adalah mayoritas. Tetapi sambung beliau:

ﻮﻠﻜﻨﻜﻢﻏﺴﺎﺀ ﻛﻐﺴﺎﺀ ﺷﻲﺀ

Artinya : “Tetapi keadaanmu ketika itu persis seperti buih di lautan”

Banyak ! Tetapi tidak punya daya dan kekuatan. Banyak ! Tetapi dipermainkan gelombang lautan dihempaskan ke tepian panyai tanpa punya makna dan arti. Kondisimu saat itu quantitas yang tanpa qualitas. Dan celakanya sambung beliau :

ﻮﺍﻠﻴﻨﺰﺃﻦ ﻔﻲ ﻗﻠﻮﺐﻋﺪ ﻮﻜﻢﺍﻠﻤﻬﺎﺑﺔ ﻤﻨﻜﻢ
Artinya : “Akan dicabut kehebatanmu dimata musuh-musuhmu”

Sehingga disaat itu oranglain menganggapmu umat islam enteng saja, remeh saja, tidak ada apa-apanya. Lalu kata rasulullah :
ﻮﺍﻠﻴﻜﺰﻔﻦ ﻔﻲ ﻘﻠﻮﺑﻜﻢ ﺍﻠﻮﻫﻦ
Artinya: “Dan dihatimu dicampakkan penyakit wahn.”
Sahabat lalu bertanya :

ﻮﻤﺎﻫﻮﺍﻠﻮﻫﻦ ﻴﺎﺮﺴﻮﻞﷲ

Artinya : “Apakah penyakit wahn itu ya Rasulullah?”

Rasulullah menjawab :

ﺤﺐ ﺍﻠﺪﻨﻳﺎ

Artinya : “Terlalu cinta pada dunia”

Materialistis dan takut resiko. Dua penyakit inilah yang menyebabkan walaupun umat ini mayoritas tetapi dipermainkan oleh yang minoritas. Walaupun golongannya besar tetapi nasibnya seperti makanan di atas meja yang dimakan dan dihantam dari segala penjuru.

Saudara-saudara kaum muslimin Rahimakumullah !
Di zaman sekarang ini, kita insyaAllah tidak akan mengalami perang sehebat perang badar yang dialami oleh rasulullah dan para sahabatnya. Tetapi sesungguhnya perang yang kita hadapi di zaman sekarang ini, tidak kurang hebatnya dari perang badar, tidak kurang dahsyatnya dari perang uhud, dan tidak kurang ngerinya dari perang khandag. Hanya saja, perang yang kita hadapi saat ini adalah perang aqidah, perang ideologi dan perang mempertahankan keyakinan. Yang kalau saat ini kita kalah, sekarang kita memang masih beragama. Tetapi bagaimana dengan anak kita, cucu kita dan generasi yang akan hidup 10, 20, hingga 30 tahun yang akan datang?? Wallahu a’lam bisowaf.
Diperingatkan oleh Rasulullah SAW di dalam hadisnya yang berbunyi:

ﺴﻳﺄ ﺘﻲﻋﻠﯽ ﺍﻤﺘﻲﻻ ﻳﺒﻘﻲ ﺍﻻﺴﻼﻡ ﺍﻻﺍﺴﻡ ﻮﻻ ﻤﻦ ﺍﻠﻘﺮﺍﻦ ﺍﻻﺮﺍﻨﻢ

Artinya :
“Akan datang suatu masa ditengah umatku dimana pada masa itu islam ada tapi tinggal sekedar namanya saja dan Al-Qur’an pun ada tapi tinggal sekedar tulisannya saja”

Terlalu cinta pada dunia menyebabkan kita lupa akan tanggungjawab dan kewajiban. Kita lupa meneruskan dan mewariskan kepada generasi yang akan datang. Kita hanya berlomba untuk mengejar dunia beserta seluruh isinya baik berupa materil, seksuil maupun pangkat, jabatan dan kedudukan.
Yang kedua dalam hadisnya Rasulullah SAW berkata :

ﻮﻜﺮﺍ ﻫﺑﺔ ﺍﻠﻤﻮﺕ

Artinya : “Terlalu takut kepada mati”

Baik mati ajal, mati usahanya, mati karirnya, mati pangkat dan jabatannya. Sehingga dengan demikian, akaibatnya jatuh kita menjadi umat yang kehilangan wibawa dimata oranglain.

Saudara-saudara kaum muslimin Rahimakumullah !

Maka dari itu, selama kita menjaga diri kita dan keluarga kita, kita juga berkewajiban menjaga dan mewarisi kepada generasi yang akan datang. Mengarahkan dan mendidik mereka sesuai yang dikehendaki oleh Allah SWT.
Anak adalah amanat ! Menyia-nyiakan amanat adalah khianat. Dan khianat itu adalah dosa besar. Dan orangtua bisa saja masuk neraka karena menyia-nyiakan amanat dan tidak bertanggungjawab akan anak-anaknya.

Saudara-saudara yang dirahmati Allah !
Itulah sebabnya Allah benar-benar berpesan kepada kita dalam Q.s At Tahrim : 6 yang berbunyi :

ﯿﺂ ﯿﻬﺎ ﺍﻠﺬﯿﻦ ﺍﻤﻨﻮﺁ ﺍﻨﻔﺴﻜﻢ ﻮﺍﻫﻠﯿﻜﻢ ﻨﺎﺮﺍ  ﻮﻗﻮﺪﻫﺎ ﺍﻠﻨﺎﺱ ﻮﺍﻠﺤﺠﺎﺮﺓ ﻋﻠﻴﻬﺎ

ﻣﻠﺌﻜﺔ ﻏﻼ ﻇ ﺷﺪﺍ ﺪ ﻻ ﻴﻌﺼﻮﻦﷲ ﻣﺂ ﺍﻣﺮﻫﻢ ﻮﻴﻔﻌﻠﻮﻦ ﻣﺎﻴﺆﻣﺮﻮﻦ

Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”

Janganlah sampai istri dan anak-anak dapat menjerumuskan seorang suami untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Kadang-kadang terlalu sayang dan cintanya kepada istri dan anak-anak, seorang suami rela melakukan apa saja untuk menyenangkan hati mereka dengan melakukan tindakan penyelewengan, korupsi, dan bahkan melanggar apa yang telah dilarang Allah SWT.

Sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Taghabun : 14 yang berbunyi :

ﯿﺂ ﯿﻬﺎ ﺍﻠﺬﯿﻦ ﺍﻤﻨﻮﺁ ﺍﻦ ﻣﻦ ﺍﺰﺍﺟﻜﻢ ﻮﺍﻮﻻ ﺪ ﻜﻢﻋﺪ ﻭﺍﻟﻜﻢ ﻓﺎﺣﺰﺮﻭﻫﻢ    ﻭﺍﻥ

ﺗﻌﻔﻭﺍ ﻭﺗﺼﻔﺤﻭﺍ ﻭﻧﻐﻔﺮﻭﺍ ﻔﺎﻦ ﷲ ﻏﻔﻭﺮﺮﺤﻴﻢ

Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Kalau anak adalah amanat yang harus kita jaga, berarti ia kita didik sebagaimana kehendak yang memberikan amanat. Akan tetapi dalam pelaksanaannya, menjalankan amanat tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam menjalankannya dipenuhi dengan cobaan dan rintangan. Harta, istri dan anak merupakan ujian dan cobaan !

Sebagaiman firman Allah dalam QS. At-Taghabun : 15 yang berbunyi :

ﺍﻧﻤﺂﺍﻤﻭﺍﻠﻜﻢ ﻭﺍﻭﻻ ﺪ ﻜﻢ ﻓﺘﻧﺔ   ﻭﷲ ﻋﻧﺪﻩ ﺍﺟﺮﻋﻈﻴﻢ

Artinya :
“Sesungguhnya harta-hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allahlah pahala yang besar”

Saudara-saudara Rahimakumullah !
Apakah yang mula-mula harus kita tanamkan di dalam diri seorang anak ?
Pendidikan pertama yang diberikan adalah persoalan aqidah. Nabi Ibrahim, pertanyaan yang paling merisaukan beliau buat anak cucunya ialah :

ﻣﺎ ﺗﻌﺒﺪﻮﻦ ﻣﻦﺒﻌﺪﻱ

Artinya : “Apa yang kamu sembah setelah aku?

Kalau ayah sudah tidak ada lagi, sekarang ayah sekarang masih rajin ke Masjid melakukan ruku’ dan sujud, I’tikaf dan membaca Al-Qur’an. Tetapi, kalau suatu saat ayahmu meninggalkan dunia ini, masihkah engkau mau masuk ke dalam masjid? Apa yang akan kamu sembah kalau aku bapakmu dudah tidak ada lagi?
Ditanamkan bukan hanya keyakinan bertauhid, tetapi sekaligus juga menyembah kepada Allah. Yang kita yakinkan dengan tauhid itu tadi.
Tapi, berbeda dengan kita sekarang, kita tidak pernah berfikir :
ﻣﺎ ﺗﻌﺒﺪﻮﻦ ﻣﻦﺒﻌﺪﻱ

Tetapi, orangtua sekarang, pagi-pagi malah berfikir :

ﻣﺎ ﺗﺄ ﻛﻠﻮﻦ ﻣﻦ ﺒﻌﺪﻱ

Artinya : “Kalau bapak tidak ada kamu makan apa nak?”

Ayuhal hadirun !

Yang harus pertama-tama kita tanamkan ke delam diri seorang anak, kita didik mereka dengan jiwa tauhid yang mengkristal di dalam batinnya, meresap sampai ke tulang sum-sumnya. Yang apabila nyawanya sekalipun berpisah dari badannya, aqidahnya tidak akan terpisah dari hatinya. Bahkan dia sanggup berkata dengan tegar “LEBIH BAIK AKU MELARAT KARENA MEMPERTAHANKAN IMAN DARIPADA HIDUP MEWAH TETAPI MENJUAL AQIDAH”

Saudara-saudara kaum muslimin rahimakumullah !

Mendidik anak menurut tuntunan Al-Qur’an adalah seperti yang dicontohkan oleh Luqmanul Hakim. Dapat kita pelajari di dalam Al-Qur’an di surat Lukman ayat 13-14.

Yang pertama dalam QS. Lukman : 13 yang berbunyi :

ﻮﺍﺫ ﻭﻗﺎﻞ ﻠﻘﻤﻦﻻﺒﻨﻪ ﻭﻫﻮﻳﻌﻈﻪ ﻳﺒﻨﻲﻻ ﺗﺸﺮﻙ ﺒﺎﷲ   ﺍﻦ ﺍﻟﺸﺮﻙ ﻟﻈﻠﻢ ﻋﻈﻴﻢ

Artinya :
“Dan (ingatlah) ketika lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku ! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”

Janganlah engkau mempersekutukan Allah nak ! Jaga tauhid, pelihara iman, mantapkan aqidah ! Ini dasar yang pertama. Dasar sebelum anak mengenal berbagai macam disiplin ilmu. Tauhid !  Adalah pertama yang ditanamkan.

Saudara-saudara kaum muslimin Rahimakumullah !
Kemudian pendidikan yang kedua berdasarkan QS. Lukman : 14 yang berbunyi :

ﻭﻭﺻﻴﻨﺎ ﺍﻻﻨﺴﺎﻦ ﺒﻭﺍ ﻠﺪﻴﻪ

Artinya :
“Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya”

Menanamkan rasa hormat dan berbakti kepada orangtua. Bagaimana menanamkan rasa hormat kepada orangtua di hati anak? Tentu yang pertama bagaimana orangtua bisa memberikan keteladanan. Keteladanan jauh lebih berhasil dari sekedar teori yang muluk-muluk. Apabila kita orangtua tidak bisa memberikan keteladanan yang baik kepada anak-anak, maka suatu saat anak akan menganggap enteng dan kehilangan wibawa kita sebagai orangtua.

Saudara-saudara!

Kita berikan pengetahuan kepada anak-anak agar ia mampu memfilter kebudayaan dan peradaban yang datang dari luar. Kadang kita salah, ingin meniru barat tapi bukan teknologinya. Kita hanya meniru wasternisasinya saja. Bukan isinya yang kita ambil, tapi malah kulitnya. Akibatnya apa? Modernnya belom, orangnya sudah barat. Bergaul cara barat, berumah tangga cara barat, dan mendidik anak pun juga cara barat. Kulitnya kita ambil sementara isinya kita campakkan. Pengaruh peradaban dan kebudayaan inilah yang dapat menghancurkan moralitas anak-anak kita. Ini yang kedua.

Kemudian yang ketiga,
Masih melalui model Luqman. Al-Qur’an mendorong kita mendidik anak dengan menanamkan etika otonom, apa itu ?
Berikut yang diajarkan dalam QS. Luqman : 16 yang akan dibaca oleh qori’ah kami

ﻳﺒﻨﻲﺍﻨﻬﺎ ﺍﻦ ﺗﻚ ﻣﺜﻘﺎﻝ ﺤﺒﺔ ﻣﻦ ﺨﺮﺪﻝ ﻓﺗﻜﻦ ﻔﻲ ﺻﺤﺮﺓ ﺍﻭﻓﯽ ﺍﻠﺴﻤﻮﺕ ﺍﻮﻓﯽ

ﺍﻻﺭﺽ ﻳﺄﺕ ﺑﻬﺎ ﷲ   ﺍﻥ ﷲ ﻟﻄﻳﻒﺧﺒﻳﺭ

Artinya :
“Wahai anakku ! Sesungguhnya kalau ada satu kebaikan yang kecil, tidak nampak oleh pandangan mata yang zahir, yang kecil itu tersembunyi di puncak langit di dasar bumi yang paling dalam atau di tengah batu hitam sekalipun Allah pasti mengetahuinya dan pasti memberikan balasan yang seadil-adilnya”

Pendidikan apa ini?
Pendidikan moral ! Menanamkan etika otonom.
Nak, kau berbuat baik jangan karena dilihat orang. Nak, kau tidak mau berbuat kejahatan jangan karena takut ada polisi. Kalau ada polisi kau tak mau jahat. Kucing juga begitu, coba lihat kucing! Kita letakkan ikan, tongkrongin aduh kucing kalem, sopan. Tetapi sedikit kita lengah, habis ikan dilahap.

Yang keempat barulah tatanan kehidupan sehari-hari. Kata luqman dalam QS. Lukman : 17, yang berbunyi :

ﻳﺒﻨﻲﺍﻗﻢﺍﻠﺼﻠﻮﺓﻮﺃﻣﺭﺑﺎﻠﻤﻌﺭﻮﻑﻮﺍﻨﻪﻋﻦﺍﻟﻤﻨﻜﺭﻮﺍﺻﺒﺭﻋﻠﯽ ﻣﺂﺍﺻﺎﺑﻚ  ﺍﻥ ﺫﻟﻚ

ﻣﻥﻋﺰﻢﺍﻻﻣﻮﺮ

Artinya :
“Wahai anakku ! Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting”

Di dalam rumah tangga muslim, anak yang telah berumur 7 tahun sudah berani meninggalkan shalat, maka kata nabi pukul !

Nak ! Dirikanlah shalat, sebab ini sandaran vertikal yang paling langsung antara manusia dengan Tuhannya. Menyadari bahwa sepanjang yang dilakukan oleh manusia adalh berusaha dan berusaha, kepastian sepenuhnya ada di tangan Allah. Kepribadianmu diperteguh dengan shalat sebagai sandaran vertikalmu kepada Allah.

Kemudian tampillah di tengah masyarakat membina yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Dilaksanakan sesuai kesanggupan masing-masing. Bukankah setiap kita ingin punya anak yang bermanfaat ? Setidaknya bagi keluarganya, syukur-syukur bagi lingkungannya, masyarakat, bangsa dan negaranya.

Yang kelima,
Biasakan hidup dengan suasana keagamaan. Kontrollah sholatnya, baca Al-Qur’annya, puasanya di bulan Ramadhan. Disana diharapkan nilai-nilai ilmu yang dia dapatkan di bangku sekolahnya akan menciptakan keseimbangan dengan yang ditanamkan oleh orangtuanya. Sehingga apabila keseimbangan ini terwujud, akan menjadi keseimbangan dalam pola berfikir. Dan keseimbangan dalam pola berfikir akan melahirkan keseimbangan dalam perbuatannya. Maka, terwujudlah insan fiiddunnya hasanah wa fil akhirati hasanah seperti yang kita harapkan.

Demikianlah syarahan singkat yang dapat kami sampaikan. Jika terdapat kesalahan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Karena kesalahan itu memang datang dari diri kami sendiri. Dan apabila yang kami sampaikan itu benar, maka syukur Alhamdulillah. Berarti Allah benar-benar memberikan petunjuknya lewat syarahan ini.

Semoga Allah senantiasa menganugerahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua khususnya yang hadir pada hari ini, serta mudah-mudahan kita dapat menjadi insan yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Akhir kata kami ucapkan :
ﺑﺎﺮﻙﷲ ﻠﻲﻭﻟﻜﻡ ﻓﯽﺍﻠﻘﺮﺍﻥﺍﻠﻌﻈﻴﻢ
ﻮﺍﻠﺴﻼﻢ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻮﺮﺤﻤﺔ ﷲ ﻮﺑﺮﻛﺎﺗﻪ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar