Imam Nawawi menerangkan bahwa yang dimaksud Khulafa’ur Rasyidin adalah para khalifah yang
empat yaitu; Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Aliradhiyallahu’anhum (Ad Durrah As Salafiyah, hal. 201) Imam
Ibnu Daqiqil ‘Ied juga menjelaskan bahwa mereka adalah keempat khalifah
tersebut berdasarkan ijma’ (Ad Durrah As
Salafiyah, hal. 202) Syaikh Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “…Dan termasuk di dalamnya (Khulafa’ur Rasyidin)
adalah para khalifah/pengganti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ilmu, ibadah dan dakwah pada umatnya,
dan sebagai pemuka mereka ialah Empat orang Khalifah yaitu Abu Bakar, ‘Umar,
‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu’anhum.” (Ad Durrah As Salafiyah, hal. 203)
Khilafah merupakan sebuah kedudukan yang sangat agung dan sebuah
tanggung jawab yang begitu besar. Karena dengan jabatan tersebut seorang
khalifah berkewajiban untuk mengurusi dan mengatur berbagai urusan kaum
muslimin. Khalifah lah orang pertama yang paling bertanggung jawab dalam hal
ini. Adanya khilafah ini merupakan kewajiban yang sifatnya fardhu kifayah. Sebab urusan umat manusia tidak akan terurusi dengan baik
kecuali dengannya. Khilafah itu bisa didapatkan melalui salah satu dari tiga
proses berikut ini :
- Keputusan tegas dari khalifah sebelumnya untuk
menunjuk/mengangkat calon penggantinya. Sebagaimana yang terjadi pada
saat pergantian kepemimpinan sesudah wafatnya Abu Bakar dengan ditunjuknya
‘Umar bin Al Khaththab berdasarkan keputusan Abu Bakar radhiyallahu’anhu sendiri.
- Berdasarkan kesepakatan ahlul halli wal ‘aqdi (badan
permusyawaratan ulama umat). Baik pemilihan anggota Ahlul halli
wal ‘aqdi itu bersumber dari penentuan yang sudah ditetapkan oleh
Khalifah terdahulu sebagaimana terpilihnya ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu sebagai
khalifah yang dipilih berdasarkan kesepakatan ahli halli wal ‘aqdi yang
ditunjuk oleh ‘Umar untuk bermusyawarah, ataupun pemilihan anggota ahlul
halli wal ‘aqdi itu bukan berdasarkan dari penentuan oleh Khalifah
sebelumnya, sebagaimana yang terjadi pada pengangkatan khalifah Abu Bakar radhiyallahu’anhu menurut
salah satu versi pendapat ulama, dan juga sebagaimana pengangkatan
khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu.
- Terjadinya penggulingan kekuasaan sehingga muncul
khalifah baru yang berhasil menguasai pemerintahan, sebagaimana
proses terangkatnya Khalifah Abdul Malik bin Marwan ketika Ibnu Zubair
terbunuh sehingga berakhirlah kekhilafahan di tangannya. (disadur dari Syarah
Lum’atul I’tiqad Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 156-157)
Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu
Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah berkata, “Umat beliau yang paling utama adalah Abu Bakar Ash
Shiddiq, kemudian ‘Umar Al Faruq, kemudian ‘Utsman Dzu Nurain, kemudian ‘Ali Al
Murtadha, semoga Allah meridhai mereka semuanya…” (lihat Syarah Lum’atul I’tiqad Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 138 )
Nama aslinya adalah Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Aamir dari suku Taim bin Murrah bin Ka’ab. Beliau adalah orang pertama
yang beriman kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa
sallam dari kalangan lelaki
dewasa. Beliau adalah sahabat yang menemani hijrah beliau. Beliau jugalah orang
yang menggantikan Nabi untuk menjadi imam shalat serta amir jama’ah haji. Ada
lima orang sahabat yang termasuk orang-orang yang dijanjikan surga yang masuk
Islam melalui perantara dakwahnya, mereka itu adalah ; ‘Utsman, Zubair,
Thalhah, Abdurrahman bin ‘Auf dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Beliau wafat pada
bulan Jumadil akhir tahun 13 hijriyah dalam usia 63 tahun. (lihat Syarah Lum’atul I’tiqad syaikh Utsaimin , hal. 141)
Para ulama berbeda pendapat tentang proses terpilihnya beliau
sebagai khalifah. Apakah beliau terpilih berdasarkan nash [dalil tegas] dari
Nabi ataukah berdasarkan bai’at (janji setia) seluruh para sahabat kepada
beliau. Sebagian ulama sejarah yang pakar di bidang hadits berpendapat bahwa
pengangkatan Abu Bakar sebagai khilafah itu berdasarkan nash yang khafi/samar.
Sedangkan ulama yang lain dari kalangan mutakallimin berpendapat bahwa beliau terpilih dengan proses pemilihan. Para
ulama golongan pertama berdalil dengan hadits yang terdapat di dalam shahih
Bukhari dari Jubair bin Muth’im tentang kisah seorang perempuan yang datang
menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, kemudian beliau
menyuruhnya untuk pulang. Maka perempuan itu pun mengatakan kepada beliau, “Bagaimana kalau saya tidak dapat berjumpa
dengan anda lagi ?” Seolah-olah yang
dimaksudkannya adalah wafatnya beliau. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallampun menjawab, “Apabila engkau tidak menemuiku maka temuilah Abu Bakar.” Begitu pula dalil lainnya yang terdapat di dalam
Shahihain dari hadits ‘Aisyahradhiyallahu’anha yang mengisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Panggilkan Abdurrahman bin Abu Bakar untukku,
aku akan suruh dia untuk menulis sebuah ketetapan, niscaya tidak akan ada
perselisihan terhadap ketetapanku.” Kemudian beliau mengatakan, “Allah lah tempat berlindung, jangan sampai umat Islam menyelisihi
Abu Bakar.” Selain itu terdapat juga
dalil lainnya seperti pengutamaan beliau sebagai imam apabila Rasulullah tidak
bisa menjadi imam, dsb. (lihat Al Is’aad, hal. 71)
Kekhalifahan Abu Bakar berlangsung selama dua tahun tiga bulan dan
sembilan hari. Semenjak 13 Rabi’ul Awwal 11 hijriyah hingga 22 Jumadil akhir
tahun 13 hijriyah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sahabat yang paling berhak menjadi
khilafah sesudah Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam adalah Abu Bakar radhiyallahu’anhu karena beliau adalah sahabat paling utama dan
paling terdepan dalam hal jasanya kepada Islam. Dan juga karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutamakan beliau sebagai imam shalat
(apabila beliau berhalangan). Dan juga karena para sahabatradhiyallahu’anhum telah sepakat untuk mendahulukannya dan
memba’iatnya, sedangkan Allah tidak akan pernah mengumpulkan mereka dalam
kesesatan. Kemudian orang yang paling berhak sesudah beliau adalah ‘Umar radhiyallahu’anhu, karena dia adalah orang paling utama sesudah
Abu Bakar, dan juga karena Abu Bakar telah berjanji untuk melimpahkan
kekhilafahan kepadanya. Kemudian diikuti oleh ‘Utsman radhiyallahu’anhu dengan dasar keutamannya dan keputusanahlu
syura untuk mendahulukan
beliau, yaitu orang-orang yang disebutkan dalam sebuah bait sya’ir :
‘Ali, ‘Utsman, Sa’ad dan Thalhah
Zubair dan Dzu ‘Auf, mereka itulah para tokoh yang bermusawarah
Kemudian diikuti oleh Ali radhiyallahu’anhu karena keutamaan yang beliau miliki dan kesepakatan para sahabat
yang ada di masanya. Keempat orang itulah khulafaur rasyidun yang telah
mendapatkan anugerah hidayah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda tentang mereka, “Wajib bagi kalian untuk mengikuti Sunnahku dan
sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan hidayah sesudahku, gigitlah ia
dengan gigi-gigi geraham kalian.” (Syarah Lum’atul I’tiqad, hal. 142-143)
Khalifah ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallahu’anhu
Nama beliau adalah Abu Hafsh. Kunyah Abu
Hafsh ini didapatkan beliau dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena Nabi melihat sifat tegas yang
dimilikinya. Abu Hafsh adalah julukan bagi singa. Beliau adalah orang pertama
yang dijuluki sebagai Amirul Mukminin secara luas oleh umat. Beliau juga
dijuluki dengan Al Faruq, karena sikap
beliau yang sangat tegas dalam memisahkan kebenaran dari kebatilan. Dialah
sahabat pertama yang berani berterus terang memeluk Islam. Dengan keislamannya
inilah dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam semakin bertambah kuat.
Masuk Islamnya Umar merupakan bukti dikabulkannya do’a beliau, “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu
di antara dua Umar yang lebih Kau cintai; Umar bin Khaththab atau Amr bin Hisyam/Abu
Jahal.” (lihat Fawa’id Dzahabiyah, hal. 10)
Beliau berasal dari suku Adi bin Ka’ab bin Lu’ai. Beliau masuk
Islam pada tahun keenam setelah Nabi diutus (bukan 6 hijriyah, sebagaimana
tercantum dalam kitabAl Is’aad fi Syarhi Lum’atil I’tiqad, hal. 71,
mungkin penulis lupa atau bisa jadi salah cetak, wallahu a’lam). Beliau masuk Islam setelah sekitar 40 orang sahabat lelaki dan
11 wanita telah masuk Islam sebelumnya mendahului beliau. Abu Bakar menyerahkan
urusan kekhalifahan untuk mengatur umat Islam kepada beliau. Beliau pun
menunaikan tugas khalifah dengan baik hingga akhirnya mati syahid terbunuh pada
bulan Dzulhijjah tahun 23 hijriyah dengan usia 63 tahun (lihat Syarah Lum’atul I’tiqad Syaikh Utsaimin, hal. 141) Kekhalifahan beliau
berlangsung selama 10 tahun, 6 bulan lebih 3 hari. Semenjak tanggal 23 Jumadil
Akhir 13 hijriyah hingga 26 Dzulhijjah tahun 23 hijriyah (Al Is’aad fi
Syarhi Lum’atil I’tiqad, hal. 71, Syarah Lum’ah,
hal. 143)
Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu
Kuniyah beliau adalah Abu Abdillah. Sang pemilik dua cahaya. ‘Utsman bin ‘Affan. Beliau
berasal dari suku Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf. Beliau masuk Islam
sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam masuk ke Darul Arqam.
Beliau adalah seorang yang kaya. Beliau menjabat sebagai khalifah sesudah ‘Umar
bin Al Khaththab radhiyallahu’anhuma berdasarkan kesepakatan ahlu syura. Beliau terus
menjabat khalifah hingga terbunuh sebagai syahid pada bulan Dzulhijah tahun 35
hijriyah dalam usia 90 tahun menurut salah satu pendapat ulama. (lihat Syarah Lum’ah, hal. 141)
Salah satu prinsip yang diyakini oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah
adalah barangsiapa yang mendahulukan Ali bin Abi Thalib di atas ‘Utsman dalam
hal keutamaan maka dia adalah orang yang melontarkan ucapan yang jelek dan
apabila ada orang yang menilainya (orang yang berkata jelek itu) sebagai ahli bid’ah maka tidak boleh diingkari, inilah madzhab Imam Ahmad bin Hambal
sebagaimana diterangkan dalam As Sunnah karya Al Khalaal. Dan apabila ada yang
mendahulukan ‘Ali di atas Utsman dalam hal hak menjabat khilafah maka dia telah
sesat, bahkan lebih sesat daripada keledai tunggangannya, sebagaimana dikatakan
oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
Kekhalifahan beliau berlangsung selama 12 tahun kurang 12 hari, beliau wafat
dalam keadaan mati syahid pada tanggal 18 Dzulhijah tahun 35 hijriyah (lihat Al Is’aad, hal. 71-72)
Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu
Kuniyah beliau adalah Abul Hasan. Putera paman Rasulullah Abu Thalib. Beliau juga
dijuluki dengan Abu Turab oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah orang pertama yang masuk Islam dari kalangan
remaja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam menyerahkan kepadanya
bendera jihad pada saat perang Khaibar yang dengan perantara perjuangannyalah
Allah memenangkan umat Islam dalam pertempuran. Beliau dibai’at sebagai
khalifah setelah khalifah ‘Utsman terbunuh. Beliau menjadi khalifah secara
syar’i hingga wafat dalam keadaan mati syahid pada bulan Ramadhan tahun 40
hijriyah dalam usia 63 tahun. Kehalifahan Ali berlangsung selama 4 tahun 9
bulan, sejak 19 Dzulhijah tahun 35 hijriyah hingga 19 Ramadhan tahun 40
hijriyah. Dengan demikian kehalifahan empat orang khalifah ini berlangsung
selama 29 tahun 6 bulan dan 4 hari. Kemudian Al Hasan bin Ali dibai’at menjadi
khalifah setelah wafatnya ayahnya. Kemudian pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 41
hijriyah beliau menyerahkan urusan kekhalifahan kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu’anhuma (dan kemudian Mu’awiyah menjadi raja pertama
dalam sejarah perjalanan pemerintahan Islam) sehingga genaplah usia khilafah
menjadi 30 tahun, membuktikan kebenaran sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kekhalifahan sesudahku berlangsung selama 30 tahun” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi dan dinilai
hasan sanadnya oleh Al Albani) Peristiwa itu juga membuktikan kebenaran sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya cucuku ini adalah pemimpin yang akan mendamaikan dua
kelompok besar umat Islam yang bertikai.” (HR. Bukhari) Oleh sebab itulah tahun 41 hijriyah
disebut sebagai ‘Aamul Jama’ah (tahun persatuan) (lihatSyarah Lum’ah,
hal. 141 dan 143, Al Is’aad, hal. 72)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar