Team Syarhil Kabupaten Lingga
ﺍﻠﺴﻼﻢ
ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺤﻤﺔ ﺍﷲ ﻭﺑﺭﻜﺎ ﺘﻪ
Saudara-saudara
kaum muslimin rahimakumullah !
Berbagai macam
persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini, silih berganti dan salah satu
permasalahan yang seakan-akan sudah berurat berakar adalah Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme.
Bahkan negara
kita termasuk salah satu Negara yang menduduki posisi atas dalam hal korupsi.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Semua itu bersumber dari krisis, yaitu krisis
keimanan dan krisis keislaman. Kalau bekerja bukan dengan akal yang sehat,
melainkan sudah dikuasai oleh hawa nafsu, maka timbulah berbagai penyelewengan
di dalam bekerja, yang melahirkan istilah-istilah Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme.
Sesungguhnya
negeri kita ini pantas menjadi negeri yang ﺒﻟﺪﺓ ﻄﻴﺑﺔ ﻭﺭﺏﻏﻔﻭﺭ . Kenapa ? Karena negeri kita berada tepat di tengah garis
khatulistiwa, negeri kita kaya akan keyakinan alam, negeri kita luas baik
daratan maupun lautan. Di negeri ini pula mayoritas manusianya beragama islam.
Seharussnya sebagaimana janji Allah dalam Q.S Al-a’raf : 96 yang berbunyi :
ﻭﻟﻭﺍﻦ ﺍﻫﻞ
ﺍﻠﻘﺭﯼ ﺍﻤﻨﻭﺍ ﻭﺍﺘﻘﻭﺍﻟﻔﺘﺤﻨﺎﻋﻟﻴﻬﻢ ﺑﺮﻜﺖ ﻣﻦﺍﻟﺴﻣﺎﺀ ﻮﺍﻻﺮﺾ
Artinya :
“Dan
sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti kami akan melimpahkan
kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”
Tapi, kenapa
kita tidak mendapat berkah? Kenapa banyak musibah ? Kenapa kita tidak menjadi
suatu negeri yang ﺒﻟﺪﺓ ﻄﻴﺑﺔ ﻭﺭﺏﻏﻔﻭﺭ ??
Karena dalam
sambungan ayat tersebut berbunyi :
ﻮﻟﻛﻦ ﻛﺬﺑﻮﺍ
ﻓﺎﺨﺬ ﻨﻬﻢ ﺑﻣﺎ ﻜﺎﻨﻮﺍ ﻴﻛﺴﺑﻮﻦ
Artinya :
“
Tapi ternyata mereka mendustakan ayat-ayat kami, maka kami siksa mereka sesuai
dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
Banyak yang
imannya bohong ! Banyak yang taqwanya palsu !
Masa’ orang
beriman korupsi? Masa’ orang beriman mencuri?? Kan nggak benar itu namanya !
Saking sudah
berurat berakarnya penyakit ini, kadang-kadang panitia qurbanpun merangkap
maling.
“Pengumuman :
KEPALA buat panitia, KAKI buat panitia, TULANG buat panitia, KULIT buat
panitia, BUNTUT buat panitia !” Apa
tak sekalian TAI’nya pun buat panitia !
Kita kadang-kadang
bingung, yang rakus yang mana? Panitianya atau kambingnya? Kok sama??
Lebih baik jadi
rakyat rendah tapi moralnya tinggi, daripada pejabat tinggi tapi moralnya
rendah. Nilai moral inilah yang menjadi barometer di masyarakat, masyarakat itu
mempunyai hukum yang tidak tertulis tapi lebih kuat dan lebih kejam dari hukum
tertulis yang sering kita lupakan.
Bahwa kehancuran
suatu bangsa di dunia ini selalu diawali oleh kehancuran moral bangsa itu
sendiri. Kita lihat sejarah islam yang pernah mencapai kejayaan di Andalusia
Spanyol, hancur berantakan akibat daripada hancurnya moral penguasa pada masa
itu. Apakah yang demikian itu akan terjadi pada bangsa ini? Kalau kita tidak
segera berbenah, tidak mustahil nilai-nilai islam akan hilang dari bumi
pertiwi. Na’uzubillahi min zalik.
Hadirin kaum
muslimin rahimakumullah !
Inilah realitas
yang terjadi di bumi pertiwi ini, dimana para penguasa baik di bidang
pemerintahan, pendidikan, maupun di bidang agama sekalipun. Mereka sudah tidak
segan-segan untuk berbuat demikian. Ini dapat kita saksikan dengan berbagai
berita dari seluruh pelosok nusantara yang hampir setiap harinya memperlihatkan
perbuatan-perbuatan penyelewengan. Yang dahulunya bersumpah dengan menjunjung
tinggi kitab suci Al-Qur’an demi memangku jabatannya. Akan tetapi,
perbuatan-perbuatan yang seharusnya tidak diperbuat malah dilakukan. Padahal Allah SWT sudah memperingatkan kepada
kita, tepatnya dalam Q.S Al-Baqarah : 188, yang berbunyi :
ﻮﻻ ﺘﺄ ﻛﻠﻮﺍ
ﺍﻣﻮﺍ ﻠﻜﻢ ﺑﻴﻨﻛﻢ ﺑﺎﻠﺑﺎﻄﻞ ﻭﺘﺪﻠﻭﺍ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﯽ ﺍﻠﺤﻛﺎﻢ ﻟﺘﺄﻜﻠﻮﺍ ﻓﺮﻴﻘﺎ
ﻣﻥ ﺍﻣﻮﺍ ﻝ
ﻠﻧﺎﺲ ﺒﺎ ﻻ ﺜﻢ ﻮﺍﻧﺘﻢ ﺘﻌﻠﻣﻮﻦ
Artinya :
“Dan
janganlah kamu makan harta diantara kamu dengan jalan yang bathil. Dan jangnlah
kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat
memakan sebagian harta oranglain itu dengan jalan dosa, padahal kamu
mengetahui.”
Saudara-saudara
kaum muslimin rahimakumullah !
Bagaimana bangsa
ini akan makmur dan sejahtera kalau keadaannya seperti ini?
Akhirnya yang
kaya semakin kaya, yang miskin semakin melarat. Memang tidak bisa kita pungkiri
bahwa sifat manusia itu tidak pernah puas terhadap apa yang telah Allah
anugerahkan kepadanya. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW dalam hadisnya
yang berbunyi :
ﻠﻮﻜﺎﻦ ﻻﺒﻦ
ﺍﺪﻢ ﻮ ﺍﺪﻴﺎﻦ ﻻ ﺑﺗﻐﯽ ﻮﺍ ﺪﻴﺎ ﺜﺎﻠﺜﺎ ﻮﻻ ﻴﻤﻸﺠﻮﻑ ﺍﺑﻥ ﺍﺪﻡ ﺍﻻ
ﺍﻠﺘﺮﺍﺐ ﻮ
ﻴﺘﻮﺐ ﺍﷲ ﻋﻠﯽ ﻤﻥ ﺘﺍﺐ . ﺭﻭﺍﻩﺍﻠﺒﻧﺎﺭﻋﻭﻤﺴﻠﻢ
Artinya :
“Kalau
anak adam sudah mempunyai harta sebanyak dua lembah, niscaya dia masih mencari
lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi rongga anak adam kecuali
maut. Dan Allah menerima taubat bagi siapa yang mau bertaubat.”
Tidak pernah
puas terhadap apa yang telah dianugerrahkan Allah kepadanya !
Sudah dikasih
satu mau dua, sudah dua mau tiga, mau empat. Kalau nafas sudah ditenggorokan,
ajal di depan mata, barulah ia sadar, akan tetapi itu tiada gunanya lagi.
Kadang-kadang kita lupa kalau semua itu titipan Allah yang suatu saat nanti pasti
akan dikembalikan kepada Allah.
Kepercayaan itu
adalah amanat, menyia-nyiakan amanat adalah khianat, dan berkhianat adalah dosa
besar.
Sebagaimana
Allah berfirman dalam Q.S Al-Anfal : 27, yang berbunyi :
ﻴﺎ ﻴﻬﺎ ﺍﻠﺬﻴﻥ
ﺍﻤﻨﻮﺍ ﻻﺘﺨﻮﻧﻮﺍ ﷲ ﻮﺍﻠﺮﺴﻮﻞ ﻮﺘﺨﻮﻧﻮﺍ ﺍﻤﻨﺘﻜﻢ ﻮﺍﻨﺘﻢﺘﻌﻠﻤﻮﻦ
Artinya :
“Hai
orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan
janganlah kamu mengkhianati amanat yang telah dipercayakan kepadamu, sedang
kamu mengetahui.”
Inilah yang
harus kita tanamkan dalam diri kita. Jangan sampai kita berkhianat terhadap
jabatan dan kepercayaan yang diberikan kepada kita.
Saudara-saudara
kaum muslimin Rahimakumullah !
Mari kita
melihat kembali sejarah pada masa Khalifah Umar !
Ketika beliau
sedang membahas masalah negara, ia menggunakan lampu milik negara. Tiba-tiba
datanglah seseorang kepada beliau. Beliau bertanya “Urusan apa saudara kemari?
Urusan negara atau urusan pribadi?” Urusan pribadi jawab orang tersebut.
Maka khalifah
pun mematikan lampu. Tamu tersebut kaget bertanya kepada sang Khalifah, “Yaa
khalifah, kenapa lampu itu dimatikan?” Beliau menjawab, “Tadi kamu bilang untuk
urusan pribadi. Ini lampu adalah fasilitas negara. Kamu mau ngobrolnya pakai
lampu, bawa saja sendiri dari rumah.”
Para sahabat
sangat berhati-hati dalam menggunakan fasilitas negara, bahkan sangat selektif
dalam memilah mana kepentingan pribadi dan mana kepentingan negara. Sampai
hal-hal yang sangat kecilpun mereka perhitungkan. Kalau kita bandingkan dengan
keadaan kita sekarang ini, sulit untuk mencari figur-figur pemimpin yang
seperti itu. Padahal apapun, bagaimanapun, semua akan dipertanggungjawabkan
dihadapan Allah SWT. Rasulullah dalam sebuah hadisnya bersabda :
ﻜﻠﻜﻢ ﺮﺍﻉ
ﻮﻜﻠﻜﻢ ﻤﺴﺌﻮﻝ ﻋﻦ ﺮﻋﻴﺘﻪ ﻓﺎﻻﻤﺎﻢ ﺮﺍﻉ ﻮﻫﻭﻤﺴﺋﻭﻞ ﻋﻦ ﺮﻋﻴﺘﻪ
ﺮﻭﺍﻩﺍﺤﺪﻭﺍﻠﺑﻧﺮﯼﻭﻤﺴﻠﻡﻭﺍﺑﻭﺩﺍﺩﻭﻭﺍﺘﺮﻤﻴﻧﯼﻋﻦﺍﺑﻦﻋﻤﺮ
Artinya :
“Setiap
kamu adalah pemimpin, dan setiap atas kepemimpinan kamu akan diminta
pertanggungjawaban. Seorang imam adalah pemimpin bagi ma’mumnya dan akan diminta
pertanggungjawabannya.”
Setiap kita
adalah pemimpin ! Minimal pemimpin atas diri kita sendiri yang akan
dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT sesuai dengan apa yang telah kita
lakukan. Jadi, apabila kita melanggar amanah yang telah diberikan kepada kita
seperti melalaikan kepemimpinan dalam melaksanakan tugas negara, baik itu
korupsi uang, waktu, tenaga, berkolusi melakukan praktek nepotisme maka akan
diperhitungkan Allah di akhirat nanti. Dimana kita tidak bisa lagi menyewa
pengacara, menyuap para hakim dan aparatnya. Karena yang akan menghakimi kita
adalah Allah SWT yang Maha Adil. Yang akan menjadi saksi atas perbuatan kita
adalah seluruh anggota tubuh kita.
Sebagaimana
firman Allah dalam QS. Yasin : 65 , yang berbunyi :
ﺍﻠﻴﻭﻡ ﻧﺨﺘﻢ ﻋﻠﯽ ﺍﻓﻭﺍ
ﻫﻬﻢ ﻭﺗﻜﻠﻤﻨﺎ ﺍﻴﺪﻴﻬﻢ ﻭﺗﺸﻬﺪ ﺍﺮﺠﻠﻬﻢ ﺒﻤﺎﻜﺎﻨﻭﺍﻴﻜﺴﺒﻭﻦ
Artinya :
“Pada
hari ini kami tutup mulut mereka, tangan mereka akan berkata kepada kami dan
kaki mereka akan member kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Saudara-saudara
kaum muslimin rahimakumullah!
Ada dua hal yang
sangat penting yang harus kita perhatikan agar pemerintahan yang bersih dan
bebas KKN dapat terwujud.
Yang pertama,
kualitas iman kita kepada Allah. Kita beriman kepada Allah tetapi hanya dilisan
saja. Kita percaya akan hari kiamat, hari pembalasan dan itupun hanya dilisan
saja. Kenapa? Sudah terlalu banyak kita memakan makanan yang haram, sehingga
energi yang ditimbulkan adalah energi yang haram. Apabila demikian, maka kita
selalu berfikiran untuk melakukan perbuatan yang haram-haram. Disaat itulah
keimanan kita kepada Allah akan semakin memudar dan bahkan hilang sama sekali.
Sebagaimana
sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Mutafakkun ‘Alaih :
ﻻ ﻴﺰﻨﻲ ﺰﺍﻦ
ﺤﻴﻦ ﻴﺰﻨﻰ ﻭﻫﻭﻤﺆﻤﻦ . ﻻﻴﺸﺭﻚ ﺸﺎﺭﻚﺤﻴﻦ ﻴﺸﺭﻚ ﻭﻫﻭﻤﺆﻤﻦ . ﻻﻴﺸﺭﺐ ﺍﻠﺨﻤﺭﺤﻴﻦ ﻴﺸﺭﺒﻬﺎ ﻭﻫﻭﻤﺆﻤﻦ .
Artinya :
“Tidak
akan berzinah seorang penzinah kalau saat ia mau berzina ia punya iman, tidak
akan berbuat syirik seorang musyrik kalau ia beriman, tidak akan mabuk seorang
pemabuk kalau ia beriman.”
Jadi,
saudara-saudara !
Tidak akan
berzina, tidak akan berbuat syirik, mabuk, mencuri, korupsi sekalipun ! Kalau
saat ingin melakukannya kita punya iman. Jika seandainya kita betul-betul
beriman kepada Allah niscaya Allah akan melimpahkan berkahnya dari langit dan
bumi.
Yang kedua
saudara-saudara !
Kita tidak
memeluk islam dengan sepenuh hati. Islam kita hanya KTP saja. Ah, yang
pentingkan islam. Memang, akan tetapi tata cara kehidupannya jauh dari tuntunan
islam. Islam hanya KTP, kamuflase. Kalau islamnya benar koq korupsi? Kok mencuri?
Kok menipu? Apakah itu ajaran islam yang dibawa oleh baginda Rasul? Saya kira
tidak.
Nah
saudara-saudara kaum muslimin Rahimakumullah !
Mari kita reboisasi
kembali iman kita, kita pahami betul keislaman kita. Tanamkan dalam diri kita
sehingga mengkrisal ia di dalam fikiran, sampai meresap ia ke tulang sum-sum
kita. Sehingga kita menjadi orang beriman dalam artian iman yang sebenarnya dan
islam dengan keislaman lahir maupun batin. Sehingga apabila kita menjadi
pejabat, kita akan menjadi pejabat yang beriman dan berakhlak mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar